Menanti Kapankah Jokowi Turun Gunung Percepat Penuntasan Kasus Penyiraman Novel Baswedan?






Menanti Kapankah Jokowi Turun Gunung Percepat Penuntasan Kasus Penyiraman Novel Baswedan? -Tentu kita tidak pernah akan lupa dengan kejadian tragis yang menimpa salah satu penyidik KPK yakni Novel Baswedan. Dimana beliau yang kala itu baru pulang dari sholat diserang oleh oknum tak bertanggung jawab yang menyebabkan Novel Baswedan Cidera hingga harus berobat keluar negeri. Mirisnya beberapa bulan setelah kasus tersebut, masih belum ada titik terang terkait kasus tersebut. Mengapa hal tersebut terjadi, apakah sesulit itu polusi mengungkap dan menuntaskan kasus tersebut.

Jika dibandingkan dengan kasus terorisme maka polisi begitu sigap dan tanggap sehingga dalam waktu sehari dua hari saja pelakunya sudah pasti ditangkap dan diumumkan. Dilansir dari MERDEKA, Sikap pimpinan KPK terkait kasus penyiraman Novel Baswedan yang hingga kini mandek sangat disayangkan. Para pimpinan KPK dinilai tidak serius dalam membantu upaya pengungkapan penyerangan penyidik senior KPK itu. Hal ini disampaikan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Simandjuntak saat mendatangi Gedung Merah Putih KPK, Rabu (11/10) sore.



"Saya sayangkan sikap pimpinan KPK yang absen dan tidak terlalu serius dalam kasus ini. Ini baru kasus Novel Baswedan. Saya enggak tahu kalau yang lain-lain yang diserang apakah pimpinan KPK membela karyawan-karyawan ini. Pimpinan KPK harus terang dan jelas dalam bersikap," katanya. Dia pun menagih janji Presiden Joko Widodo untuk mengungkap siapa dalang di balik penyerangan Novel. Jika memang Presiden serius ingin memberantas korupsi, maka kasus penyiraman Novel juga harus diusut tuntas. Karena itulah TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) harus segera dibentuk.

"Kenapa harus TGPF? Karena saya pesimis polisi mau menuntaskan kasus ini sehingga TGPF menjadi penting," ujarnya. Dia juga mengatakan, para pimpinan KPK harus ikut mendorong Presiden menuntaskan kasus ini. "Yang paling dibutuhkan political will dari Presiden dan Komisioner KPK," tambah Dahnil. Dia juga mengungkapkan kekecewaannya kepada kepolisian yang tak kunjung menuntaskan kasus ini. Pelaku penyerangan belum juga tertangkap sampai enam bulan sejak kejadian. "Apabila kita lihat model kasus ini sebenarnya mudah saja untuk diungkap. Clue-clue sudah banyak disampaikan," jelasnya.

Belum lepas dari ingatan kita saat Presiden Joko Widodo memerintahkan kepolisian mencari pelaku dan mengusut tuntas penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Itu disampaikan Jokowi di hari yang sama saat Novel disiram air keras, Selasa (11/4). Perintah itu setelah Jokowi mendapat laporan atas peristiwa yang menimpa Novel.

"Karena ini kriminal urusan Polri untuk cari," tegas Jokowi di Istana Negara. Tiga bulan berselang, polisi belum berhasil menangkap pelaku dan membongkar aktor intelektual di belakangnya. Desakan mulai muncul. Salah satunya dari Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Dia meminta agar Presiden Joko Widodo membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kasus penyiraman terhadap Novel yang masih buntu. Pihaknya mengaku tak bisa berharap kepada instansi lain, selain Presiden Jokowi, dalam kasus Novel tersebut. Sebab, Komnas HAM juga hingga kini tak bisa diandalkan.


"Yang kami sampaikan dugaan dan kalau-kalau yang bisa menyampaikan pesan kepada presiden untuk segera bentuk TGPF dan pihak kepolisian termasuk ke KPK," kata Dahnil, Rabu (26/7). Tak berselang lama, Presiden Jokowi memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian ke Istana. Secara khusus Jokowi memerintahkan Kapolri menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. "Perintah dari beliau dituntaskan sesegera mungkin," kata Jenderal Tito di Istana, Senin (31/7).

Tito mengaku sempat menyampaikan perkembangan penyidikan kasus ini. Dia menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya tidak ada sidik jari pelaku yang ditemukan di lokasi. Polisi sudah memeriksa sejumlah saksi. Namun belum ada yang secara jelas mengarah ke pelaku. Polisi pun siap menggandeng KPK menuntaskan kasus ini. "Tadi kita sampaikan juga beberapa kendala. Beliau minta sesegera mungkin," kata Tito.

Presiden memerintahkan Kapolri agar segera menuntaskan kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. "Sudah disampaikan Pak Kapolri kemarin itu ya. Saya sampaikan untuk segera, saya perintahkan untuk segera dirampungkan," ujar Jokowi di Yogyakarta, Selasa (1/8). Perintah dari Jokowi itu juga disampaikan melalui media sosial. "Kasus yang menimpa Pak Novel Baswedan harus segera dituntaskan," kata Jokowi melalui akun resmi twitternya, Selasa (1/8).

Menurut Jokowi, kasus yang menimpa Novel Baswedan telah mengalami kemajuan. Hal ini terlihat dari langkah Kapolri yang mengumumkan sketsa dugaan pelaku. Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas angkat bicara usai Jokowi menyatakan telah memerintahkan Kapolri segera menuntaskan kasus ini. Busyro menuturkan, kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan menjadi pertaruhan reputasi Jokowi.

"Enggak ada celah lain, kalau presiden mau apresiatif tinggi. Kalau tidak, ya catatan besar untuk presiden untuk 2019 nanti kalau mau maju lagi. Catatan serius," ujar Busyro, Selasa (1/8). Desakan lain juga datang dari pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar. Presiden Jokowi diminta turun tangan. Terutama setelah Novel menyebut ada anggota Polri berpangkat jenderal terlibat dalam teror fisik terhadapnya. Jokowi bahkan didesak membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) guna mengurai benang merah kasus tersebut.

"Presiden seharusnya tidak membiarkan keadaan tersebut dan Kapolri seharusnya menjawab harapan masyarakat. Karena itu disarankan agar Presiden membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kasus Novel Baswedan secara tuntas," kata Bambang Widodo Umar. Dorongan membentuk TPF juga datang dari Wakil Ketua DPR, Agus Hermanto. Menurutnya, sudah seharusnya Presiden membentuk TPF untuk mengungkap siapa aktor intelektual yang menyerang Novel Baswedan.

"Kalau saya melihat, bahwa dari dulu saya sampaikan untuk kasus Novel rasanya presiden harus membuat TPF, tapi saya liat sampai saat ini belum juga dibentuk. Karena ini persoalannya sangat susah dan menyita waktu cukup lama," kata Agus. Kini, sudah lima bulan berlalu, kasus ini masih gelap. Polisi belum berhasil membongkar aktor di balik penyerangan Novel. Bahkan belum diketahui pelaku penyerangan. Anggota Tim Advokasi Novel Baswedan, Yati Andriyani meminta Presiden Jokowi menegur Kapolri.

"Lima bulan tidak ada perkembangan penanganan kasus ini. Seharusnya waktu lima bulan sudah cukup bagi Presiden untuk melakukan evaluasi dan menegur ‎Kapolri atas kinerja yang buruk dalam kasus ini," kata Yati di Jakarta, Selasa (12/9). Karena kinerja polri yang lamban, dia menyarankan Jokowi segera membuat TGPF. Pasalnya, sambungnya, dengan terbentuknya TGPF dapat menelusuri pelaku maupun dalang peneror Novel Baswedan.

"Hasil TGPF bisa memperkuat dan memperkaya temuan untuk pengungkapan kasus ini yang mandek di tangan Polri," tegasnya. Yati berharap Jokowi konsisten mendukung pemberantasan korupsi, yang salah satunya dengan menuntaskan kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. "Harusnya Presiden tidak perlu ragu terkait pernyataannya mendukung KPK, salah satunya dapat ditunjukkan secara nyata dengan mendukung penuntasan kasus NB (Novel Baswedan). Penyerangan terhadap NB, sejatinya adalah penyerangan terhadap KPK. Jika kasus seperti NB tidak diselesaikan, ‎maka pelemahan KPK dari segala sisi sebagaimana terjadi seperti sekarang ini akan terus terjadi," kata Yati. Dan artikel ini bisa juga kamu temukan di:
titik terang kasus novel baswedan,jokowi turun tangan kasus novel baswedan

0 Response to "Menanti Kapankah Jokowi Turun Gunung Percepat Penuntasan Kasus Penyiraman Novel Baswedan?"

Posting Komentar